Konservasi Penyu

Standar

Konservasi penyu Desa Saba dapat ditemui di pesisir Pantai Saba. Konservasi penyu ini memiliki sebuah nama sederhana, yaitu “Konservasi Penyu Bali”, yang diketuai oleh Pak I Made Kikik atau yang biasa dikenal dengan panggilan Pak Kik. Konservasi ini belum lama berdiri, namun Pak Kik telah memulai kegiatan konservasi penyu di Pantai Saba sejak tahun 2007. Dengan kegigihan, ketekunan, dan ketulusan hati Pak Kik dan beberapa temannya dalam membangun konservasi penyu sejak tahun 2012 Konservasi Penyu Bali sudah mendapat dukungan dari BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) dan Konservasi Penyu Serangan yang bernama Turtle Conservation and Education Center(TCEC).

Konservasi di Pantai Saba ini memang belum sebesar badan konservasi lainnya, seperti Konservasi Penyu Serangan ataupun BSTS (Bali Sea Turtle Society). Namun usaha dan tujuan konservasi penyu Pantai Saba ini dalam kelangsungan hidup penyu pun tak kalah besar dengan badan konservasi tersebut. Hal ini terbukti dari banyaknya penyu yang telah diselamatkan dan dibuktikan pula dengan rencana akhir tahun 2014 ini yang akan dibuat tempat penangkaran penyu yang lebih baik di Pantai Saba dengan dukungan dari BKSDA.

IMG_2525     IMG_2514

Kegiatan konservasi yang dilakukan Pak Kik dan teman-teman dimulai dari pencarian telur penyu yang telah dipendam oleh induk penyu di pesisir Pantai Saba. Penyu yang bertelur di Pantai Saba umumnya berjenis penyu lekang atau penyu olive. Pencarian telur dilakukan dini hari sekitar jam 2 pagi hari karena penyu akan bertelur ditengah malam hingga dini hari. Penyu bertelur paling banyak disekitar bulan Mei-Juli. Telur yang telah ditemukan kemudian dipindahkan ke dalam wilayah konservasi yang diberi pelindung berupa kawat yang melingkari tempat pendaman telur sehingga tidak ada hewan liar yang dapat mengusik.

Sebagian telur yang didapat juga ditangkar di rumah Pak Kik dengan pengkodisian tempat yang disesuaikan dengan habitat aslinya. Sedikit berbeda dari penangkaran yang di Pantai Saba, pasir yang mengendapkan telur penyu ditambahkan pasir putih yang digunakan untuk mengoptimalisasikan panas yang masuk sehingga proses inkubasi berjalan maksimal.

Setelah melewati proses inkubasi yang berlangsung rata-rata selama 60 hari telur penyu pun menetas, anak penyu yang baru lahir baik dari penangkaran yang di pesisir Pantai Saba maupun yang di rumah Pak Kik dirawat terlebih dahulu selama kurang lebih tiga bulan untuk penyesuaian lingkungan dan pelatihan hidup bebas agar dapat bertahan hidup di alamnya ketika dilepaskan ke laut lepas. Telur penyu yang menetas di penangkaran pesisir Pantai Saba akan dibawa ke rumah Pak Kik untuk mendapatkan system pengairan yang lebih baik tidak hanya sekedar bak penampungan saja.

IMG_2516     IMG_2517

Kedua gambar diatas merupakan bak penampungan penyu di pesisir Pantai Saba, yang menetas pada tanggal 9 Juli 2014.

IMG_2520

Penyu berumur satu hari yang menetas pada tanggal 15 Juli 2014, berjenis penyu lekang.

Iklan

Pantai Saba

Standar

IMG_2700

Desa Saba memiliki pantai yang bernama Pantai Saba, terletak di Banjar Dinas Saba (paling selatan). Pantai Saba ini memiliki panjang pantai sebesar 5 Km, berbatasan dengan Pantai Pering disebelah timur dan Pantai Purnama disebelah barat. Batas-batas tersebut ditandai oleh aliran sungai yang bermuara ke pantai. Pantai Saba sangat mudah dijangkau, melalui by pass Tohpati Kusamba (Jalan Prof. DR. Ida Bagus Mantra).

Pantai Saba tidak seperti Pantai Kuta atau pantai-pantai lainnya di Bali yang memiliki pasir putih, melainkan berpasir hitam yang berasal dari erupsi vulkanik Gunung Agung. Namun hal tersebut tidak mengurangi daya tarik dari Pantai Saba, sebaliknya hal tersebut menjadi ketertarikan sendiri. Deru angin dan ombak yang kuat menghiasi perjalanan disepanjang pantai. Sepanjang jalan dipesisir Pantai Saba, kita dapat menemukan kapal nelayan yang digunakan para nelayan untuk mencari ikan. Terlihat juga jejeran pohon cemara udang yang masih kecil yang menjadi bagian dari usaha untuk mengatasi abrasi yang terjadi sepanjang Pantai Saba. Selain itu kita dapat menemukan konservasi penyu yang diketuai oleh Pak Made Kikik.

Konservasi penyu tersebut dibuat sederhana dan belum lama didirikan oleh Pak Made Kikik dan teman-temannya. Keadaan Pantai Saba yang masih alami, belum terlalu banyak infrastruktur yang ada, sehingga tidak banyak cahaya menerangi atau dengan kata lain belum terjadi polusi cahaya. Hal tersebut membuat penyu-penyu mendatangi Pantai Saba untuk bertelur disana. Konservasi penyu ini lah yang menyelamatkan telur-telur penyu untuk dapat bertahan hingga menetas dan menjaganya dari hewan-hewan liar yang mengincar telur tersebut sebagai santapannya, salah satunya anjing liar.

IMG_2523IMG_2524

Kedua gambar tersebut diambil dari konservasi penyu di Pantai Saba.

Pantai Saba memiliki panorama yang sangat indah, khususnya disaat pagi hari. Dari Pantai Saba kita dapat melihat sunrise, matahari terbit dengan pancaran sinar jingganya yang memecah kegelapan malam yang menjadi pertanda akan datangnya hari baru. Panorama tersebut ditambah dengan kecantikan pemandangan gugusan Pulau Nusa Penida.

IMG_2745 A

Sejarah Desa Saba

Standar

Pada zaman kerajaan, terdapat sebuah hutan yang dihuni oleh 18 orang bernama I RENGKED. Pemimpinnya saat itu bernama I RENGKED. Hutan rengked merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Blahbatuh, namun dikuasai oleh Kerajaan Sukawati yang dipimpin oleh DEWA AGUNG ANOM KALANG. I GUSTI NGURAH JELANTIK yang merupakan raja dari Kerajaan Blahbatuh merasa kecewa karena kekuasaannya dikuasai oleh Raja Sukawati. Raja Blahbatuh bersama prajurit-prajuritnya berkali-kali menyerang Sukawati untuk merebut kekuasaannya kembali, namun berkali-kali pula menemui kegagalan karena kuatnya kedudukan Raja Sukawati. Oleh karena itu Raja Blahbatuh memerintahkan I GUSTI NGURAH PADANG dari Bona untuk menyerang Kerajaan Sukawati. Dengan bersatunya I GUSTI NGURAH PADANG dan I RENGKED dalam melawan Raja Sukawati. Akhirnya Raja Sukawati dapat dikalahkan dan Hutan Rengked pun kembali menjadi wilayah Kerajaan Blahbatuh. Hak milik I DEWA ANOM KALANG berupa keris dikuasai oleh I GUSTI GEDE PADANG saat merebut Hutan Rengked dan diberi nama KERIS PUSAKA RENGKED. Sampai saat ini keris pusaka tersebut disimpan di Puri Blahbatuh.

Raja Blahbatuh merasa gembira sekali atas kemenangan yang diperoleh oleh I GUSTI GEDE PADANG dan I RENGKED. Saat itu nama Hutan Rengked diubah menjadi TOH JIWA karena tempat tersebut direbut atas pertaruhan jiwa.

Setelah keadaan cukup aman, seluruh raja-raja di Blai berkunjung ke Toh Jiwa untuk menyaksikan upacara kemenangan Raja Blahbatuh terhadap Raja Sukawati. Jumlah penghuni Hutan Rengked yang berjumlah 18 orang yang dianggap terlalu sedikit sekali, maka I GUSTI GEDE PADANG berusaha memperbanyaknya dengan menghubungi seluruh raja-raja di Bali.

Barang siapa pada zaman Kerajaan tersebut dianggap bersalah dan dikenai hukuman mati, maka orang tersebut dibawa ke Toh Jiwa untuk memperbanyak penghuni Toh Jiwa. Oleh sebab itu penduduk Toh Jiwa semakin banyak, orang-orang yang bersalah bertemu di Toh Jiwa dan akhirnya tempat pertemuan itu diberi nama PESABAN. Hingga sekarang berubah namanya menjadi SABA, para Agung datang ke Saba untuk membicarakan suatu masalah dan tujuannya disamping untuk menyaksikan kemajuan kesenian yang ada di Desa Saba.

Salah satu kesenian yang sangat menonjol adalah LEGONG KRATON SABA disamping kemajuan seni Tabuh Ging Pinda yang telah mendapat Predikat Juara ditingkat Propinsi.

Profil Desa Saba

Standar

Desa Saba termasuk wilayah Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Propinsi Bali. Desa Saba merupakan Desa Pantai yang mempunyai luas wilayah sebesar 600,60 Ha yang membentang dari utara ke selatan dengan ketinggian desa 0-500 diatas permukaan laut. Desa saba berbatasan dengan Desa Blahbatuh disebelah Utara, Desa pering sebelah Timur, Samudra Indonesia sebelah Selatan, dan Kecamatan Sukawati disebelah Barat.

Secara geografis Desa Saba terletak disebelah selatan Kecamatan Blahbatuh dan Desa Blahbatuh. Pintu gerbang utama Desa Saba adalah Banjar Dinas Saba. Untuk mencapai Desa Saba dapat ditempuh melalui Banjar Dinas Perangsada, Desa Pering dengan jalan raya sepanjang 2,10 Km. Selain itu, Desa Saba dapat ditempuh melalui Banjar Dinas Gelumpang, Desa Sukawati yag berjarak 1,50 Km. Ataupun dapat ditempuh melalui jalan by pass Tohpati Kusamba (Jalan Prof. DR. Ida Bagus Mantra).

Dilihat dari segi administratif dan kewilayahannya, Desa Saba terdiri dari 8 Banjar Dinas dan 5 Desa pekraman. 8 Banjar Dinas, yaitu:

– Banjar Dinas Blangsinge

– Banjar Dinas Sema

– Banjar Dinas Kawan

– Banjar Dinas Tengah

– Banjar Dinas Tegallulung

– Banjar Dinas Banda

– Banjar Dinas Pinda

– Banjar Dinas Saba

Dan 5 Desa Pekaraman Desa Saba, yaitu:

– Desa Pekraman Blangsinge

– Desa Pekraman Bonbiyu ( Sema, Kawan, Tengah, dan Tegallulung)

– Desa Pekraman Banda

– Desa Pekraman Pinda

– Desa Pekraman Saba